"Sayang, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Leena dengan nada penasaran. Ia mendekat perlahan, memandangi Lynx yang duduk tenang di atas batu besar di tepi pantai, tatapannya mengarah jauh ke lautan yang bergelombang lembut.

Beberapa hari telah berlalu sejak Lynx menyelamatkan suku Surya dari tangan para penyihir. Meski para korban sudah selamat, sebagian besar dari mereka terutama para pemuda dan wanita masih belum sepenuhnya sadar. Pengaruh sihir itu begitu dalam, hingga Lynx harus mengurung mereka sementara di dunia kecil demi menjaga keselamatan semua orang dan membiarkan Lala mencari cara untuk menyelamatkan mereka.

Setelah kejadian itu, Lynx memindahkan seluruh penduduk suku Surya ke sebuah pantai yang terpencil di wilayah benua Nanhuang tepatnya di wilayah kerajaan Rihua. Lynx memilih tempat tersebut, karena dengan kekuatan persepsinya saat mencari lokasi, jejak di daerah ini adalah tempat yang paling jauh dan jarang di lewati para kultivator. Mereka perlu menghindari musuh dan menghindari pihak kerajaan Qingyuan yang mengetahui penduduk Surya berasal dari dunia lain. Di tempat tersebut, ia membangun sebuah pemukiman baru yang memiliki nama seperti tempat sebelumnya, desa Surya. Wajah-wajah penduduk kini dipenuhi harapan dan sukacita. Mereka bersyukur telah bebas dari kegelapan, dan berterima kasih karena luka-luka mereka berhasil disembuhkan Lynx menggunakan pil spiritual.

Dengan mengendalikan elemen tanah, Lynx dengan mudah menciptakan pagar pelindung raksasa di sekeliling desa. Ia juga membantu mendirikan bangunan tempat tinggal dan menara penjaga, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi suku tersebut. Mereka kini hidup tenang sambil menantikan hari ketika semua kerabat mereka yang masih dalam pengaruh sihir bisa pulih sepenuhnya.

Di tengah desa berdiri sebuah menara kembar yang indah, dimana bagian tengahnya terdapat gerbang dimensi besar yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia kecil. Gerbang itu selalu terbuka, namun hanya mereka yang memiliki izin yang boleh melaluinya. Beberapa orang keluar masuk untuk membantu Lala dalam penelitian atau sekadar mengantarkan makanan bagi mereka yang masih terkurung di dunia kecil. Meski belum sadar sepenuhnya, para tahanan itu tetap menunjukkan naluri dasar seperti makan saat melihat makanan di depan mereka, hal ini membuat Lynx dan yang lainnya menjadi lebih tenang.

Meskipun dunia kecil lebih stabil dan kaya akan qi spiritual, Lynx menolak ide agar seluruh suku tinggal di sana. Menurutnya, itu hanya akan mengulang kesalahan masa lalu, seperti ketika mereka terkurung di planet Surya dan hidup dalam keterasingan. Ia ingin suku Surya belajar mengenal dunia luar, membaur dengan peradaban lain, dan berkembang sebagai bangsa yang kuat dan mandiri. Maka, lahirlah desa Surya sebagai simbol kebebasan baru mereka.

Untuk keluar masuk desa, Lynx menciptakan formasi pelindung yang setara dengan pelindung sekte besar. Setiap pergerakan harus melalui izin resmi. Ancaman musuh masih mengintai, dan langkah ini menjadi salah satu bentuk perlindungan paling penting. Sesekali, Lynx juga membuka portal ke kota Zhurong, agar penduduk bisa membeli perlengkapan atau menjalin relasi dengan dunia luar.

Dengan bantuan Kael, Leena, Arkha, Narendra, Lala, dan Jelita, desa ini berubah menjadi perkampungan kuat yang memiliki struktur pertahanan dan sistem hidup yang teratur. Leena, yang memiliki pengalaman sebagai murid sekte besar, berencana melatih anak-anak seperti Kanha agar mereka mampu berkultivasi dan menyesuaikan diri dengan dunia tempat mereka saat ini.

Lynx masih menatap laut saat menjawab pertanyaan Leena, suaranya dalam dan lembut. "Aku cuma merasa lega... akhirnya kita bisa mengumpulkan semua orang. Entah kenapa, aku merasa tak lama lagi kita akan menemukan jalan pulang."

Leena terdiam sesaat, lalu mengembuskan napas panjang. Pandangannya mengabur oleh kenangan masa lalu. "Pulang... Rasanya sudah lama sekali kita terpisah dari keluarga. Tapi jika itu benar, aku..." Suaranya melemah. Ia tersenyum kecil dan memandang ke arah ombak, seolah mencari bayangan rumahnya di seberang dunia.

Lynx menoleh padanya dan berkata dengan yakin, "Lala bilang dia bisa mencoba melacak lokasi dunia kita. Aku percaya dia pasti mampu menemukannya."

Mata Leena berbinar. Ia langsung memeluk Lynx erat dan mencium pipinya dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Sayang. Aku percaya padamu. Aku tahu kamu pasti bisa membawa kita pulang."

"Hmm... hmm... Kak Lynx, Kak Leena, jadi malu nih lihat kalian bermesraan di tempat umum." Sebuah suara muncul tiba-tiba dari belakang mereka, disertai tawa kecil yang jenaka.

Wajah Leena langsung memerah. Ia buru-buru melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang. Lynx hanya tersenyum kecil, sementara langkah kaki mendekat semakin terdengar jelas. Sebagai kultivator, Lynx dan Leena sudah mendengar dan mengetahui Kanha mendekat, namun perkataan Lynx tentang pulang membuat Leena lups kehadiran Kanha ke arah mereka.

"Kanha... kamu berani-beraninya menertawaiku ya." ucap Leena setengah kesal, pipinya masih merona.

"Maaf, Kak Leena. Kanha nggak sengaja kok." jawab bocah itu sambil memasang wajah memelas. Tapi sesaat kemudian lidahnya menjulur, menggodanya nakal.

Ia lalu menyampaikan maksud kedatangannya dengan cepat, "Para tetua sudah berkumpul di ruang pertemuan, Kak. Sesuai pesanmu tadi."

Lynx mengangguk pelan, lalu berdiri dari batu tempatnya duduk. Tatapannya masih tertuju pada cakrawala sejenak, seolah menyimpan banyak hal yang belum terucap. Ia membenarkan jubahnya dan mulai berjalan bersama Leena kembali ke arah pemukiman, langkahnya mantap namun terasa berat, seolah menyerap seluruh beban yang belum sempat ia lepaskan.

Sesampainya di desa Surya,  suasana terasa hening dan penuh harap. Di ruang pertemuan yang terbuat dari batu dan kayu yang telah diperkuat oleh formasi, para tetua sudah menunggu. Mereka berdiri dalam lingkaran, wajah-wajah mereka menunjukkan ekspresi yang sama, haru dan penghormatan yang tulus. Mata-mata tua itu menatap Lynx seolah tak percaya bahwa kepala suku berhasil menemukan dan menyelamatkan mereka semua.

Lynx mengedarkan pandangannya. Ia melihat Maret dengan jubah merah tuanya, Widhi yang rambutnya sudah sepenuhnya putih, Raka yang tegap walau wajahnya terlihat letih, Uban dengan matanya yang berkaca-kaca, Rasyid yang duduk di samping Raka, dan Ayunga menatap Lynx dengan ekspresi wajah penuh syukur. Tak jauh dari Jelita, nenek Drona duduk disampingnya dengan tenang.

Kael, Arkha, Narendra, Lala, dan Leena telah duduk terlebih dahulu di tempat yang disediakan di sisi kanan ruang itu. Mereka memberi ruang bagi Lynx untuk berdiri di posisi terdepan sebagai kepala suku.

Lynx berdiri tegak di hadapan para tetua. Saat itu juga, seluruh tetua menundukkan kepala mereka serempak. Suara napas tertahan dan detak jantung yang tenang mendominasi ruangan.

"Terima kasih kepala suku," ucap Tetua Rasyid dengan suara bergetar. "Kami tidak akan pernah lupa... kau telah menyelamatkan kami semua."

"Tanpa kau... kami semua entah berapa lama sanggup bertahan." sambung Ayunga sambil menunduk dalam.

"Kalian tidak perlu bersikap seperti demikian. Sudah seharusnya aku melindungi dan menjaga kalian. Karena kecerobohanku hingga hilang ingatan membuat kalian menjadi sengsara." kata Lynx sambil menatap wajah mereka satu persatu.

Lalu Lynx melanjutkan,"Tetua Widhi, bagaimana? Apakah para penduduk sudah diperiksa seluruhnya? Apakah semua baik-baik saja?"

Tetua Widhi melangkah maju. Wajahnya suram, pandangannya berat. Dia memandang ke semua orang di sekitar sebelum berkata "Kami kehilangan banyak anggota keluarga... terutama wanita dan bayi. Mereka dijadikan tumbal oleh para penyihir. Kami tak bisa berbuat apa-apa."

Setelah terdiam sesaat, tetua Widhi melanjutkan."Ratusan penduduk terbunuh karena tumbal termasuk para pemuda yang terbunuh ketika menjalankan misi dari para penyihir."

Suasana mendadak membeku. Mata Lynx menegang, dan tangan kanannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Ia menatap ke lantai batu di bawah kakinya, rahangnya mengeras.

"Ratusan..." gumamnya lirih. "Ratusan nyawa tak berdosa... terbunuh begitu saja."

Suara Lynx semakin dalam, matanya kini menyala dengan amarah dan kesedihan yang bercampur jadi satu. "Aku... seharusnya melindungi mereka. Mereka keluargaku."

Ia menarik napas dalam, lalu mengangkat kepalanya menatap para tetua.

"Aku bersumpah... mereka tidak akan mati sia-sia. Aku akan membalas mereka. Mereka akan tahu... bahwa menyentuh suku Surya adalah kesalahan terakhir yang pernah mereka buat."

Beberapa tetua mengangguk dengan mata merah. Namun Lynx belum selesai.

"Tapi... jika para penyihir  begitu berbahaya dan kejam... mengapa kalian tidak memperingatkanku saat di planet Surya?  Jika aku tahu lebih awal, aku bisa membunuh mereka saat itu juga."

Nenek Drona yang duduk diam mulai mengangkat suaranya, "Aku... aku pernah mendengar percakapan mereka saat mereka sedang memeriksa para tahanan," ucapnya pelan. "Mereka berkata... mereka akan membuatmu menyesal karena telah menolong para penyihir."

Lynx menatapnya heran. "Menolong mereka? Aku? Aku tidak pernah mengenal para penyihir. Bahkan aku baru tahu jika ada penyihir di planet itu."

Nenek Drona menunduk sejenak, lalu berkata, "Kepala Suku, mereka semua berlima. Mungkin kepala suku pernah mendengar nama mereka... Mira, Rina, Sari, Dita, dan Lila."

Dada Lynx bergetar. Ia termundur karena kaget lalu menatap lantai dengan ekspresi terguncang.

"Tidak mungkin..." bisiknya. "Mereka... mereka adalah perempuan yang aku selamatkan dari tangan para perampok. Mereka bilang mereka melarikan diri dan seluruh keluarganya di tangkap. Mereka tampak ketakutan... tidak menunjukkan kekuatan apapun..."

Lynx menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang dalam. "Jadi mereka itu adalah penyihir? Mereka menipuku... Seharusnya aku membunuh mereka saat itu juga."

Para tetua memandang satu sama lain. Salah satu dari mereka akhirnya angkat bicara.

"Tetua, semua yang sudah terjadi tidak perlu kita sesali. Yang terpenting saat ini... apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

Lynx mengangkat wajahnya. Tatapannya tegas, meski di balik ketegasan itu masih tersisa luka yang belum pulih.

"Kita belum bisa bertindak gegabah. Kalian harus ajak penduduk beristirahat, pulihkan kekuatan mereka. Bangun kembali harapan mereka."

Ia menoleh pada Kael dan Arkha. "Kita akan fokus menyadarkan para pemuda yang masih terpengaruh sihir. Begitu mereka kembali... aku akan memanggil semua orang. Kita akan rapatkan barisan. Lalu kita putuskan langkah berikutnya."

Ia kembali menatap para tetua dan berbicara dengan suara tegas.

"Aku berhutang banyak kepada kalian, kepada suku Surya. Kedepannya aku pasti akan menjaga kalian dengan baik."

